Selasa, Oktober 02, 2007

Dunia dalam sekotak teh botol

Setiap Sabtu Delia bangun telat dan menikmati indahnya dunia di balik selimut kala pagi hari. Tapi Sabtu ini jadwal Delia lain dari biasanya, ia terburu-buru berkemas-kemas membawa sebuah buku catatan yang ia dapatkan dari seorang rekan kerjanya – mantan rekan kerja, lebih tepatnya-. Pagi ini Delia masih sempat untuk sarapan telur mata sapi kesukaannya dan segelas teh botol dingin. Sambil mengucapkan salam, Delia segera beranjak dari rumah. Ia memberhentikan bis jarak jauh, Delia bertanya dalam hati ”kok aku bisa ya bangun pagi?”..sambil memikirkan jawabannya Delia tertidur di dalam Bis, sayup-sayup terdengar petikan gitar dan lagu ”Bersama Bintangnya Drive” dari seorang pengamen, Delia tersadar. ”Biasanya aku hanya mendengarkan Michael Buble setiap hari dari CD dalam mobil kesayanganku” ucapnya dalam hati. Kini ia hanya duduk diam dalam sebuah bis kota yang tidak penuh, berjalan sangat cepat dan tercium bau AC yang lembab.

”Kemana semua hari-hariku?biasanya jam 9 aku baru bangun, hampir mendekati jam 10 aku baru berangkat dan melewati hari yang membosankan di kantor”. Delia turun dari Bis menuju dunia barunya. Di tangannya ia menggenggam sebuah kotak penuh teh botol yang baru saja ia beli dari seorang langganan yang sudah lama tak ia kunjungin, sambil ia mengingat kembali suasana Sabtu pagi yang biasanya ia lalui. ”ini dunia apa?kemana dunia membosankanku?bosan?tapi kok aku rindu?”. Sejenak ia terhenti dalam lamunannya melihat sekelilingnya, ada dunia baru yang siap menjamunya, sebuah dunia dalam sekotak teh botol yang ia minum, sebuah dunia mencakup kebebasannya, dunia yang ia idam-idamkan, dunia yang ia tunggu dan dunia yang lebih membutuhkannya.

Langkah Delia makin pasti, saat ia melewati 2 spur rel kereta api, ia teringat dengan sebuah program transportasi yang dulu ia promosikan melalui tempatnya ia bekerja. Semakin ia ingat semakin deras air matanya ingin mengalir. ”ada dunia baru disana yang lebih baik, jangan ingat yang kemarin, jangan ingat yang lalu”. Delia merasakan hatinya begitu perih, diteguknya teh botol kotak yang ia pegang kemudian ia terhenti di depan seorang loper koran. Tak sedikitpun koran yang ia baca, bahkan bukan headline2 koran yang ia perhatikan, dalam hatinya sedang berkecamuk ingin melewati pintu masuk dunia barunya tapi tak tega meninggalkan yang lama. Delia melangkah dan meninggalkan loper koran yang berdiri bersandar pada sebuah tiang halte.

Dunia ku tak sebesar kotak teh botol yang ku pegang, duniaku lebih jauh n luas daripada jarak tanjung priuk – depok. Dunia baruku lebih menyenangkan daripada dunia setiap sabtuku dulu yang membosankan.

Dunia baruku tak sebesar kotak teh botol tapi dunia baru ku sesegar tegukan rasanya.